Mengapa MU Ditangan Amorim Sangat Parah? Manchester United di bawah arahan Ruben Amorim sedang mengalami masa sulit yang cukup mencolok. Sejak pelatih asal Portugal itu ditunjuk akhir 2024, tim belum menemukan ritme konsisten meski sudah melewati beberapa bulan. Kekalahan beruntun di liga domestik, performa buruk di kompetisi Eropa, dan permainan yang terlihat kacau membuat banyak pihak bertanya-tanya: mengapa United justru semakin parah di tangan Amorim? Situasi ini kontras dengan harapan tinggi yang dibawa sang pelatih setelah sukses besar di klub sebelumnya. Kini, United terjebak di papan tengah klasemen, jauh dari zona kompetitif, dan kritik semakin keras terhadap adaptasi taktik serta manajemen skuadnya. REVIEW WISATA
Transisi Taktik yang Belum Berjalan Lancar: Mengapa MU Ditangan Amorim Sangat Parah?
Amorim datang dengan identitas permainan yang sangat jelas: formasi tiga bek, wing-back tinggi, dan pressing agresif dari depan. Sistem ini sukses besar di klub lamanya, tapi di United terlihat belum cocok dengan materi pemain yang ada. Banyak pemain yang terbiasa bermain dengan empat bek selama bertahun-tahun kesulitan beradaptasi dengan peran baru, terutama bek tengah yang harus sering maju ke lini tengah dan wing-back yang dituntut menyerang sekaligus bertahan tanpa jeda.
Hasilnya, pertahanan United sering terbuka lebar saat transisi. Lawan mudah memanfaatkan ruang di belakang wing-back yang naik terlalu tinggi, sementara tiga bek tengah tidak cukup cepat menutup ruang. Pressing tinggi yang diterapkan Amorim juga belum sinkron; pemain depan dan tengah sering tidak menekan secara serentak, sehingga lawan dengan mudah membangun serangan dari belakang. Banyak laga berakhir dengan United kebobolan dari serangan balik cepat atau kesalahan individu di area berbahaya. Transisi taktik ini butuh waktu, tapi di United prosesnya terasa lebih lambat karena jadwal padat dan kurangnya pra-musim penuh untuk pelatih baru.
Masalah Komposisi Skuad dan Ketidakcocokan Pemain: Mengapa MU Ditangan Amorim Sangat Parah?
Salah satu alasan utama performa parah adalah ketidakcocokan antara filosofi Amorim dengan skuad yang diwariskan. Amorim menginginkan pemain yang punya kecepatan tinggi, kemampuan duel kuat, serta kenyamanan bermain dengan bola di area sempit—karakteristik yang tidak dimiliki semua pemain United saat ini. Beberapa bek tengah kurang lincah untuk bermain dalam sistem tiga bek, gelandang tengah tidak cukup agresif dalam merebut bola, dan penyerang sering kesulitan menekan secara konsisten sesuai tuntutan pelatih.
Selain itu, cedera berulang pada pemain kunci memperburuk situasi. Amorim tidak punya banyak opsi untuk merotasi tanpa menurunkan kualitas, sehingga pemain utama dipaksa bermain terus-menerus meski dalam kondisi fisik menurun. Rekrutmen musim panas lalu juga belum sepenuhnya sesuai kebutuhan sistemnya; beberapa pemain baru masih butuh waktu adaptasi, sementara yang lain tidak langsung memberikan dampak. Hasilnya, United terlihat kurang seimbang: serangan kurang tajam, tengah mudah ditembus, dan belakang rapuh. Amorim sendiri mengakui bahwa skuad ini butuh penyesuaian besar, tapi proses itu tidak bisa instan di tengah tekanan hasil.
Tekanan Mental dan Kurangnya Kepercayaan Diri Tim
Di luar taktik dan skuad, United juga terlihat kehilangan mental juara. Kekalahan beruntun membuat pemain ragu dalam mengambil risiko, sering bermain terlalu hati-hati meski tertinggal. Amorim dikenal sebagai pelatih yang menuntut intensitas tinggi, tapi saat tim tidak punya kepercayaan diri, tuntutan itu malah jadi beban. Ruang ganti tampak kurang harmonis karena beberapa pemain senior merasa posisi mereka terancam oleh perubahan sistem, sementara pemain muda belum cukup matang untuk memikul tanggung jawab besar.
Suporter juga mulai kehilangan kesabaran. Atmosfer di stadion kandang tidak lagi seintens dulu, dan kritik terhadap Amorim mulai muncul di media sosial serta forum penggemar. Tekanan ini membuat Amorim harus berjuang tidak hanya di lapangan, tapi juga menjaga moral tim. Banyak analis bilang United butuh waktu lebih lama untuk melihat hasil dari proyek Amorim, tapi di klub sebesar United, kesabaran terasa sangat terbatas.
Kesimpulan
Manchester United di tangan Ruben Amorim memang sedang sangat parah karena kombinasi transisi taktik yang belum mulus, ketidakcocokan skuad dengan filosofi pelatih, serta hilangnya kepercayaan diri tim secara keseluruhan. Amorim membawa visi yang jelas, tapi implementasinya terhambat oleh faktor internal klub yang sudah mengakar lama. Meski begitu, masih terlalu dini untuk menilai proyek ini gagal total—banyak pelatih sukses butuh satu musim penuh untuk menanamkan identitas. Yang jelas, United perlu dukungan penuh dari manajemen, pemain, dan suporter agar proses ini bisa berjalan. Jika Amorim diberi waktu dan alat yang tepat, potensi membalikkan keadaan masih ada. Tapi jika tekanan terus meningkat tanpa hasil, masa depannya di Old Trafford bisa jadi semakin sulit. Saat ini, United sedang di persimpangan: bertahan dengan proyek jangka panjang atau kembali ke pola lama yang sudah terbukti tidak membawa trofi.