Aturan Penalti Ulang dan Pelanggaran di Kotak Penalti. Tendangan penalti sering menjadi momen paling tegang di sepak bola, di mana satu pelanggaran kecil bisa ubah hasil. Aturan penalti ulang dan pelanggaran di kotak penalti diatur dalam Law 14 Laws of the Game, dengan pembaruan signifikan pada 2025/26 untuk tingkatkan keadilan. Klarifikasi utama adalah sentuhan ganda tak sengaja oleh penendang—kini penalti diulang jika gol tercipta. Selain itu, encroachment hanya dihukum jika berdampak nyata, sementara posisi kiper lebih fleksibel. Perubahan ini muncul setelah kasus kontroversial, membuat eksekusi penalti lebih manusiawi tanpa kurangi ketegangan. INFO SLOT
Prosedur Dasar dan Posisi Kiper: Aturan Penalti Ulang dan Pelanggaran di Kotak Penalti
Kiper wajib berada di garis gawang, menghadap penendang, dengan setidaknya satu kaki menyentuh, sejajar, atau di belakang garis saat bola ditendang. Ini longgar dari aturan lama yang paksa kedua kaki di garis. Kiper dilarang distrak penendang, seperti goyang tiang atau gerak mengganggu.
Pemain lain harus di luar area penalti dan busur, minimal 9,15 meter dari titik penalti. Di kompetisi dengan VAR, asisten wasit posisi sejajar titik penalti untuk awasi offside rebound, sementara VAR tangani encroachment kiper dan goal/no goal. Jika kiper maju dini dan pengaruhi tendangan (misalnya selamatkan bola), penalti diulang; kiper diperingatkan pertama, lalu kartu kuning untuk pengulangan.
Pelanggaran Encroachment dan Dampaknya: Aturan Penalti Ulang dan Pelanggaran di Kotak Penalti
Encroachment atau masuk area terlalu cepat hanya dihukum jika benar-benar berdampak. Untuk pemain bertahan (termasuk kiper): jika penalti gagal atau diselamatkan, diulang jika dampak jelas; jika gol, sah saja. Untuk pemain penyerang: jika gol, sah kecuali encroacher ganggu kiper atau cetak dari rebound; jika gagal, tidak diulang kecuali dampak signifikan.
Jika kedua tim langgar sekaligus, penalti selalu diulang kecuali ada pelanggaran lebih serius seperti feinting ilegal. Pendekatan ini fokus pada material impact, kurangi retake atas pelanggaran kecil yang tak pengaruhi hasil, tapi tetap jaga fairness di kotak penalti.
Klarifikasi Sentuhan Ganda Tak Sengaja
Pembaruan besar di 2025 adalah penanganan sentuhan ganda tak sengaja oleh penendang, seperti tergelincir hingga kaki pendukung sentuh bola segera setelah tendangan utama. Jika gol tercipta, penalti diulang (retake). Jika gagal atau diselamatkan, tidak diulang—di pertandingan reguler beri indirect free kick kepada bertahan, di adu penalti catat sebagai miss.
Ini bedakan jelas dari sentuhan ganda sengaja, yang tetap hukum indirect free kick atau miss. Klarifikasi ini hindari hukuman berlebih atas kesalahan manusiawi, seperti di lapangan licin, dan langsung diterapkan setelah kasus kontroversial sebelumnya.
Kesimpulan
Aturan penalti ulang dan pelanggaran di kotak penalti pada Laws of the Game 2025/26 semakin presisi dan adil. Klarifikasi sentuhan ganda tak sengaja, encroachment selektif berdasar dampak, serta posisi kiper longgar menunjukkan upaya kurangi kontroversi tanpa hilangkan drama. Pada akhir 2025, dengan VAR dan posisi asisten baru, pengawasan lebih akurat, buat momen penalti mencerminkan skill sejati. Ke depan, aturan ini akan terus sempurnakan sepak bola modern, pastikan keadilan terjaga di situasi paling krusial.