Liverpool Alami 9 Kekalahan dalam 12 Laga Terakhir Ini. Liverpool, juara Premier League musim lalu, kini hadapi mimpi buruk yang tak terbayang. Arne Slot, yang angkat trofi dengan empat laga tersisa tahun lalu, lihat timnya ambruk: sembilan kekalahan dari 12 laga terakhir di semua kompetisi. Rekor ini terburuk sejak November 1953 sampai Januari 1954, saat The Reds juga kalah sembilan dari 12. Kekalahan 4-1 dari PSV Eindhoven di Anfield Rabu malam jadi puncak—gol penalti Ivan Perisic, Guus Til, dan brace Couhaib Driouech hancurkan pertahanan. Liverpool duduk peringkat 12 liga dengan enam kemenangan, nol seri, enam kekalahan dari 12 laga. Pengeluaran 450 juta poundsterling musim panas seharusnya bangun dinasti, tapi malah ciptakan krisis identitas. REVIEW KOMIK
Performa Liga yang Menghancurkan: Liverpool Alami 9 Kekalahan dalam 12 Laga Terakhir Ini
Premier League jadi neraka bagi Slot. Enam kekalahan dari tujuh laga terakhir, termasuk 3-0 kalah dari Nottingham Forest di kandang—kekalahan terburuk sejak 4-1 dari Manchester City 2021. Mereka kebobolan 20 gol, setara terburuk musim 2014-15 di bawah Brendan Rodgers. Tujuh laga berturut-turut kebobolan dua gol atau lebih, dan kalah babak pertama di enam dari tujuh laga akhir. Win rate Slot 51% sepanjang 2025, tapi turun jadi 46,7% dari 30 laga terakhir. Mohamed Salah kesulitan: satu gol non-penalty musim ini. Pengeluaran rekor untuk Alexander Isak dan upgrade lini tengah gagal integrasi, bikin skuad kehilangan kohesi. Posisi 12 klasemen, tertinggal 14 poin dari Arsenal, bikin gelar bertahan cuma mimpi.
Krisis di Liga Champions: Liverpool Alami 9 Kekalahan dalam 12 Laga Terakhir Ini
Eropa, yang dulu jadi taman bermain, kini jadi jebakan. Kekalahan 4-1 dari PSV adalah yang ketiga beruntun dengan margin besar, bikin Liverpool peringkat 13 fase liga UCL. Dari delapan laga, mereka cuma kumpul enam poin: dua kemenangan, seri, lima kekalahan. Kebobolan dari set-piece naik 300% musim ini, duel udara kalah 60%, dan passing accuracy 82%—terburuk di fase grup. Virgil van Dijk beri penalti konyol pada Ismael Saibari, sementara Ibrahima Konate kehilangan bola yang langsung jadi gol. Slot akui, “Kami beri peluang mudah.” Risiko finis di luar delapan besar berarti playoff tambahan, kontras tajam dengan dominasi musim lalu di mana mereka tak kebobolan sembilan gol set-piece sepanjang tahun.
Cedera dan Transisi yang Berantakan
Slot gantikan Jürgen Klopp dengan janji revolusi, tapi transisi ini gagal total. Cedera menumpuk: Frenkie de Jong absen 10 laga, Conor Bradley dan Florian Wirtz terbaru cedera hamstring. Tiga bek tengah senior out panjang, mirip krisis 2020-21 yang bikin finis ketiga, 27 poin di belakang City. Rotasi minim bikin pemain utama capek: Alexis Mac Allister main 90% menit, sementara Cody Gakpo overload di serangan. Slot bilang, “Tahun lalu tekanan juara, sekarang pukulan demi pukulan.” Morale tim goyah: ribuan fans tinggalkan Anfield lebih awal, sorak jebakan di akhir laga. Mantan bek Jamie Carragher sebut situasi “tak tertahankan” jika terus merosot.
Kesimpulan
Sembilan kekalahan dari 12 laga adalah alarm merah bagi Liverpool: dari puncak ke lubang dalam 70 tahun. Slot punya dukungan hierarki, tapi November krusial—lawan West Ham Minggu ini, Sunderland, Leeds. Kurang dari tujuh poin dari tiga laga, tekanan pemecatan naik. The Reds pernah bangkit dari lubang lebih dalam, tapi kini butuh mental juara lagi. Slot harus perbaiki kesalahan dasar, integrasikan skuad baru, dan pulihkan kepercayaan. Anfield setia, tapi angka tak bohong: ini saatnya The Reds bangkit, atau musim ini jadi bencana terbesar sejak degradasi 1954.